Limbah Dapur MBG Cemari lingkungan Badan Kesehatan Masyarakat Provinsi Sumatera Tinjau langsung ke lapangan

Medan, 15 Mei 2026 – Ketua Badan Kesehatan Masyarakat Provinsi Sumatera Utara, Ali Gondo Siregar secara resmi meminta Badan Gizi Nasional (BGN) Perwakilan Wilayah Sumatera Utara untuk memperketat pemantauan dan pengawasan terhadap pengelolaan limbah yang dihasilkan oleh seluruh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG yang beroperasi di wilayah ini. Langkah ini diambil mengingat ditemukannya sejumlah kasus pembuangan limbah cair langsung ke parit dan saluran air, yang dikhawatirkan mulai mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan warga sekitar.

Dalam keterangannya di kantor Badan Kesehatan Masyarakat Sumut, Ali Sugondo Siregar menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, namun tidak boleh justru menimbulkan masalah baru berupa pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan akibat pengelolaan limbah yang tidak sesuai standar.

“Kami menerima banyak laporan dari warga bahwa air limbah sisa pencucian bahan makanan, peralatan masak, dan cairan organik lainnya dibuang begitu saja ke parit-parit lingkungan. Hal ini jelas melanggar ketentuan sanitasi dan berisiko menimbulkan bau tidak sedap, sarang nyamuk, hingga pencemaran sumber air bersih. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak,” ujarnya tegas.

Ia menekankan, sesuai peraturan yang berlaku, setiap Dapur MBG wajib memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berfungsi baik, agar air sisa kegiatan olah makanan aman dibuang ke lingkungan atau dimanfaatkan kembali. Di lapangan, masih banyak ditemukan dapur yang beroperasi namun fasilitas pengolahan limbah belum lengkap atau tidak berfungsi, sehingga aliran limbah langsung masuk ke saluran air umum.

“Kami meminta BGN Wilayah Sumatera Utara segera turun melakukan pengecekan menyeluruh. Pastikan setiap dapur memiliki izin laik higiene sanitasi dan sistem pengolahan limbah yang berjalan benar. Jika ditemukan pelanggaran, kami minta ditindak tegas, mulai dari peringatan, perbaikan, hingga penghentian operasional jika belum memenuhi syarat,” tegasnya lagi.

Pihaknya juga mengingatkan bahwa pencemaran air dan tanah akibat limbah dapur berpotensi menimbulkan berbagai penyakit menular, gangguan pencernaan, hingga masalah kesehatan lingkungan jangka panjang. Kerjasama lintas instansi sangat diperlukan agar tujuan mulia program MBG berjalan beriringan dengan prinsip kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan .

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Gizi Nasional Wilayah Sumatera Utara menyambut baik masukan tersebut dan berjanji akan segera mengerahkan tim pemantauan gabungan untuk meninjau langsung kondisi di lapangan. “Kami sangat mengapresiasi perhatian ini. Pengelolaan limbah dan sanitasi adalah bagian mutlak dari standar operasional kami. Kami akan segera lakukan evaluasi dan pembinaan agar seluruh dapur berjalan aman dan ramah lingkungan,” jawabnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang telah berkoordinasi dan menyusun jadwal pemeriksaan mendadak ke sejumlah lokasi dapur yang telah dilaporkan warga, guna memastikan masalah ini segera ditangani dan tidak berlanjut merugikan masyarakat.

admin

Iswa Yudi Ahmad Jawi Ritonga Muidin Samosir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *